Laugh is Hard, Making People Laugh is Harder

Depresi bisa dialami siapa saja, bahkan orang humoris sekalipun.

Apa yang biasa gue lakukan ketika mengalami hari yang buruk atau masalah yang tampaknya nggak kunjung selesai? Menonton film yang terdapat komedi di dalamnya atau variety show yang membuat gue tertawa sampai menangis. Bukan rahasia lagi bahwa tertawa adalah obat manjur agar kita merasa bahagia. Bahkan ada bukti dari segi kesehatannya pula. Karena itu kita merasa bersyukur ketika ada komedian atau orang-orang humoris yang bisa menghibur. Lalu bagaimana dengan mereka? Siapa yang menghibur mereka?

Orang-orang humoris kadang disebutkan justru sebagai orang-orang yang paling sering merasa sedih. Apa yang kita lihat tidak sama dengan apa yang ada di baliknya. Komedian bahkan cenderung tidak bersikap humoris di kehidupan sehari-hari mereka, khususnya di depan keluarga inti mereka. Ini yang gue lihat dari wawancara beberapa komedian Indonesia. Dan siapa yang lupa dengan kematian mengejutkan the famous Robin Williams?

Tahun 2014, Universitas Oxford melakukan penelitian terhadap 523 komedian. Gordon Claridge, pengajar di Departemen Psikologi Eksperimental Universitas Oxford, kepada BBC mengatakan bahwa elemen kreativitas yang dibutuhkan untuk menghasilkan humor sangat mirip dengan cara mencirikan gaya kognitif seseorang yang memiliki penyakit kejiwaan skizofrenia dan gangguan bipolar. Dia juga mengatakan komedian mungkin menggunakan aksi mereka sebagai bentuk medikasi terhadap diri sendiri.

Komedi berasal dari kejujuran. Sering menonton stand up comedy? Pernah memerhatikan bahwa kebanyakan komedi yang mereka ceritakan berasal dari pengalaman pribadi? There’s a truth behind it. Mereka menggunakan pengalaman pribadi, baik yang menyenangkan atau menyedihkan—dan kebanyakan menyedihkan, sebagai komedi yang kemudian mereka presentasikan. Dan tentu saja menyampaikannya dengan kelucuan—yang kemungkinan kejadian aslinya tidak selucu yang kita dengar (dan mereka alami).

robin

Orang-orang humoris bisa disebut sebagai pengamat. Mereka mengamati “kekacauan” di sekitar mereka yang kemudian diolah menjadi kelucuan yang akan mereka sampaikan. Studi membuktikan orang-orang humoris memiliki IQ yang tinggi. Di tahun 1970-an, sebuah studi menunjukkan dari 55 komedian laki-laki dan 14 komedian perempuan, mereka memiliki IQ tertinggi dari rata-rata populasi. Komedian laki-laki memiliki skor rata-rata 138, sementara komedian perempuan rata-rata 126.

Ironisnya, banyak komedian yang mengaku bahwa mereka mengalami depresi. Tapi ada pula peneliti yang mengatakan sebaliknya. Profesor pemasaran dan psikologi di Universitas Colorado, Boulder, dan penulis The Humor Code: A Global Search for What Makes Things Funny, menyatakan bahwa orang-orang berpikir komedian memiliki kepribadian yang gelap, tapi banyak orang dengan kepribadian gelap tidak menjadi komedian. Ia menyebutkan butuh penyesuaian diri agar bisa sukses di dunia hiburan.

Orang humoris bisa menutupi kekurangan mereka dengan menjadikan diri mereka sendiri sebagai bahan tertawaan. Mereka tidak ingin membiarkan orang lain menertawakan kekurangan mereka, karena itu mereka akan lebih dulu membuat candaan tentang diri mereka sendiri. Zara Barrie mengatakan hal itu sebagai kontrol yang dilakukan komedian/orang humoris. Mereka bertindak sebagai pengendali candaan yang mereka tampilkan. I permit you to laugh at me because this is my stage.

Menjadi lucu itu tidak mudah. Gue bahkan kagum dengan komedian yang bisa dengan cepat mengeluarkan humor tanpa harus membuat dirinya terlihat konyol. Kita memang lebih tertarik dengan orang-orang humoris. Kenapa? Mereka bisa menyampaikan sesuatu yang menyedihkan menjadi hal yang lucu dan menghibur. Terlebih lagi karena mereka menyampaikan hal yang erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Karena merasa akrab dengan yang mereka sampaikan itulah kita tertarik dengan mereka. Siapa yang butuh memikirkan masalah dengan galau kalau bisa memandangnya dengan humor?

Kita berpikir komedian/orang humoris adalah orang paling bahagia sedunia, tapi pada kenyataannya mereka juga mempunyai lubang hitam di diri mereka. Mengeluarkan humor menjadi cara terbaik yang bisa mereka lakukan untuk menutup lubang hitam tersebut. Sebagian ada yang berhasil memperbaikinya, tapi sebagian lain ada yang gagal dan bahkan lubang hitam itu semakin dalam dan gelap.

“The public began to see, through brilliant material and public battles with personal demons, that the people who made them laugh the hardest seemed to be enjoying life the least. Maybe all those jokes were hiding something much darker.” –Jim Norton, comedian.

Mungkin tidak semua komedian/orang humoris memiliki lubang hitam. Tapi menghibur orang lain dan menjadi lucu juga bukan berarti mereka adalah orang paling bahagia sedunia dan terlepas dari segala masalah. Entah sebagai pelarian dari masalah yang mereka hadapi atau karena memang senang menghibur orang lain, komedian/orang humoris mungkin juga harus ingat bahwa mereka juga orang yang pantas untuk dihibur dan bahagia.

“Nobody knows what it takes to make others laugh. My pain may be the reason for somebody’s laugh. But my laugh must never be the reason for somebody’s pain.” –Charlie Chaplin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s