Kindergarten Teacher: Teaching is Not The Only Thing To Do

Menjadi guru TK sama sekali nggak pernah terlintas dalam pikiran gue. No, I’m not a kindergarten teacher. Tapi gue akrab dengan dunianya. Mamah dulu adalah seorang guru TK. Beliau menjadi guru TK bahkan sebelum gue lahir. Setelah bertahun-tahun menjadi guru TK, beliau mendapat kesempatan untuk akhirnya mendirikan TK tahun 2007. Sekarang Mamah memang hanya berstatus kepala sekolah di TK-nya, tapi beliau masih mengajar—sebagai guru SD.

Menurut gue, kita bisa semakin tahu kepribadian diri sendiri ketika berhadapan dengan anak-anak. Ketika libur semester kuliah, gue pernah disarankan untuk mencoba mengajar anak TK. Mungkin orang yang belum terlalu mengenal gue berpendapat gue adalah orang yang sabar dalam menghadapi anak-anak. Absolutely wrong.

I love kids, but when they starts to get out of control, I give up. Kalau dia sepupu atau anak sepupu gue, gue bisa langsung menyerahkannya ke orangtuanya. Kalau anak orang yang bahkan nggak gue kenal orangtuanya? Gue sama saja sedang menjalani ujian kesabaran tingkat tinggi. Karena itu beberapa kali gue menolak saran Mamah.

Namun suatu hari, ketika libur semester kuliah tiba, gue pernah akhirnya mencoba masuk ke kelas. Entah karena sedang bosan nggak ada kegiatan selama liburan semester atau memang penasaran, gue menjadi “asisten” sehari. Hasilnya? Mungkin kalau digambarkan dalam komik, muka gue sudah merah dan berasap. Ya, saya memang tidak cocok menjadi guru TK.

Menghadapi satu anak yang susah diberitahu saja gue sudah kewalahan, bagaimana dengan belasan anak? Ya, mungkin karena gue belum mengerti cara menghadapi anak TK atau mendidik anak TK atau bahkan cara mengajar (walaupun gue hanya membantu gurunya aja), gue langsung menyerah. Atau mungkin karena gue memang nggak niat. I think that’s the important thing. Niat dan menyukai apa yang dilakukan menjadi dasar keberhasilan melakukan sesuatu, termasuk mengajar anak TK.

kindergarten

Itu bertahun-tahun yang lalu. Sekarang, apa gue berubah pikiran? Gue nggak sekali dua kali menghadapi anak-anak. Jadi “pengasuh” tiga anak sepupu gue sudah menjadi latihan kesabaran dalam menghadapi anak-anak. Memang berbeda ketika kita menghadapi anak-anak yang sudah familiar dibandingkan anak yang sama sekali belum kita tahu perangai dan kebiasaannya. Namun, karena gue suka memerhatikan perangai seseorang, gue pun jadi suka memerhatikan perangai anak-anak.

Gue membantu TK Mamah dua tahun belakangan. Walaupun nggak mengajar, gue sering mendengar cerita dari guru-guru mengenai tingkah laku murid-murid mereka. Dari cerita-cerita itu, kalau boleh menyimpulkan, anak-anak itu nggak berbahaya. Yang berbahaya adalah orang dewasa yang menjadi panutan dan cermin mereka dalam melakukan sesuatu. Gue tahu kita semua pasti tahu itu. Tapi ketika melihat sendiri apa yang dimaksud dengan pernyataan itu, gue sebagai “orang dewasa” merasa harus sangat hati-hati dalam menghadapi anak-anak. Delapan tahun lalu gue masih anak kuliah yang nggak terlalu peduli dengan kenyataan itu ketika menjadi “asisten”. Namun melihat berbagai perangai dari anak-anak di TK Mamah membuat gue yakin bahwa kita—orang dewasa—berbahaya bagi mereka.

Kenapa kita berbahaya? Gue pernah mendengar cerita dari guru di sekolah tentang anak didiknya yang bercerita bagaimana ketika orangtuanya bertengkar. Anak itu bercerita dengan cuek seolah-olah kejadian itu sudah lumrah. Ketika anak itu bercerita, yang lain ikut menimpali dengan cerita yang hampir sama. Memang nggak semua anak, tapi satu anak bercerita seperti itu saja sudah membuat kita bisa melihat seberapa besar pengaruh apa yang kita lakukan di hadapan anak-anak.

Karena cepat dalam menyerap dan mengingat informasi, kita perlu berhati-hati di depan anak-anak. Kadang kita nggak pernah sadar melakukan sesuatu yang bisa aja ditiru anak-anak. Ketika melihat mereka melakukan sesuatu yang kita rasa nggak pernah kita ajarkan, kita jadi bertanya-tanya darimana mereka menirunya?

Melarang dan memarahi anak-anak memang jauh lebih mudah. Namun sebagai orang dewasa, kita harus lebih mengontrol apa yang kita ucapkan dan lakukan di hadapan mereka. Ketika anak dipaksa untuk nggak melakukan yang menurut kita salah, kalau ternyata sumbernya adalah kita sendiri, seharusnya kita sadar bahwa itu sama saja dengan mengatakan bahwa kita salah. Itu kenapa gue bilang kita semakin tahu kepribadian diri sendiri ketika berhadapan dengan anak-anak. Ingatkah ketika kita dulu masih anak-anak? Kita masih seorang makhluk yang sama sekali nggak tahu mana benar mana salah, kecuali ketika orangtua atau orang dewasa memberi tahu kita. Dan ketika orang yang lebih tahu itu memberitahukan yang sebaliknya—benar menjadi salah, salah menjadi benar, mana yang seharusnya dipersalahkan?

Sebagai guru TK, kesabaran menjadi hal yang paling dibutuhkan. Bukan cuma dalam menghadapi anak-anak, tapi kadang juga orangtua (bahkan sepertinya harus lebih sabar menghadapi orangtua). Kalau kita masih berpikir menjadi guru TK hanya mengajar baca tulis A B C, mengajak bermain, menggambar dan mewarnai, ada baiknya kita juga berpikir bahwa menjadi guru TK nggak semudah itu.

“They may forget what you said but they will not forget how you made them feel.” -Carl Buechner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s