I Love Words but I Don’t Really Like To Say It

Sudah “mempersiapkan” dialog panjang lebar dan merangkai kata-kata sebagus mungkin di kepala ketika bicara, tapi apa yang dikeluarkan jauh berbeda dengan yang dipikirkan. Yang paling buruk adalah bicara belibet tapi nggak ada keinginan untuk mengoreksi. Hanya ada penyesalan terpendam mengutuk diri sendiri karena nggak bisa bicara dengan benar.

Pernah mengalami hal seperti itu? Itu adalah masalah yang biasa dihadapi oleh introvert dengan kata-kata. Berbicara lebih mudah di dalam kepala atau ketika menuangkannya menjadi tulisan dibandingkan mengeluarkannya secara langsung. Apa yang ingin diucapkan bisa jauh berbeda dengan kenyataannya, padahal kita sudah merangkai kata-kata bagus. Bahkan sering kali kita bisa membayangkan dialog yang sempurna, namun buyar ketika menyampaikannya ke orang lain.

I try to speak clearly but words get tangled. -introvert problems

Terbiasa dengan menghadapi masalah seperti itu, tentu tahu hal apa yang paling nggak disukai introvert? Melakukan presentasi. Baru membayangkannya aja gue sudah malas. Memang nggak semua orang bisa ahli dalam melakukan presentasi, bagaimana pun kepribadiannya. Namun karena introvert cenderung lebih suka berbicara di dalam kepala, mereka akan kesulitan ketika harus mengeluarkannya, apalagi di hadapan orang banyak.

Dulu gue punya alasan yang nggak biasa ketika memilih jurusan menginjak kelas tiga SMA. Gue memilih IPA dengan alasan nggak suka melakukan presentasi—selain karena nggak suka Akuntansi. IPA kan cuma hitung-hitungan aja, ngapain melakukan presentasi? Ya, saya salah, saudara-saudara. Memang kami tetap melakukan presentasi, walaupun yang dipresentasikan tetap berhubungan dengan hitung-hitungan (dan saat itu gue baru ngeh pelajaran Sejarah juga masih dipelajari anak IPA).

Walaupun sudah berlatih dan mempersiapkan diri semalaman sebelum hari H, rasa percaya diri bisa langsung hilang ketika sudah berada di hadapan banyak orang. Ketika kuliah, gue mulai mengharuskan diri sendiri untuk belajar menjalani presentasi sekaligus mengatasi kesulitan berkata-kata. Mungkin belum sempurna, tapi gue sudah bisa jauh lebih tenang ketika melakukan presentasi saat kuliah dibandingkan zaman sekolah. Karena itu gue nggak belibet lagi ketika harus memberikan presentasi–dan syukur Alhamdulillah bisa sidang skripsi dengan lancar.

Kesulitan berkata-kata ketika memberikan presentasi di depan umum bukan berarti gue pelit bicara ketika sedang bersama teman. Kami justru bisa berbicara panjang lebar ketika bersama orang yang dekat dengan kami. Kecenderungan introvert untuk “berbicara” lebih banyak dalam kepala juga memungkinkan tanpa sengaja gumaman keluar yang membuat kami seolah-olah sedang berbicara dengan orang lain. But we’re not crazy. Berbicara sendiri memang bagian dari salah satu ciri kepribadian introvert yang biasanya muncul ketika ingin meluapkan emosi atau ada ide yang muncul.

Walaupun bisa berbicara panjang lebar dengan orang yang dekat dengan kami, kadang belibet ketika ngomong itu masih terjadi. Ini bisa juga karena introvert suka berpikir panjang ketika ingin mengucapkan sesuatu. Yes, we’re also overthinking. Hal ini menimbulkan masalah yang nggak asing bagi introvert. Ketika lawan bicara sedang menceritakan sesuatu, introvert bisa berpikir panjang untuk mengomentari. Atau ketika sedang bersemangat ingin menceritakan hal yang sedang disukai, introvert bisa nggak fokus dengan lawan bicaranya, kecuali jika lawan bicaranya membicarakan hal yang ingin ia bicarakan juga. Ini bisa menjadi obrolan panjang dan introvert bisa “cerewet” di saat seperti ini.

Ketika kata-kata nggak bisa dikeluarkan secara lisan, gue melakukan “pelarian” dengan menuangkannya ke tulisan. Namun bukan berarti gue nggak mencoba untuk belajar mengatasi masalah ketidaksukaan gue dengan presentasi. Sama ketika gue kesal karena ngomong kelibet tapi nggak mau mengoreksi, gue juga kesal ketika presentasi yang gue jalani nggak berjalan sesuai dengan yang gue bayangkan. Karena itu gue belajar dengan selalu membayangkan bahwa gue ahli dalam topik yang akan gue presentasikan. Gue juga biasa membuat poin-poin yang akan disampaikan, nggak kurang nggak lebih. Kalau berlebihan takutnya gue akan bicara ngalor ngidul. Memang kadang masih tetap belibet, tapi melakukan persiapan kecil seperti itu dulu cukup membantu buat gue.

“Deep inside, she knew who she was, and that person was smart and kind and often even funny, but somehow her personality always got lost somewhere between her heart and her mouth, and she found herself saying the wrong thing or, more often, nothing at all.” -Julia Quinn

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s