My Childhood Only Happened Once

What do you remember about your childhood?

Gue lahir di tahun 1988. Itu artinya gue besar sebagai generasi 90-an. Pasti sudah sering dengar “masa kecil generasi 90-an adalah masa yang bahagia”, “generasi 90-an susah move on”, dst. Berlebihan? Bukan karena gue generasi 90-an gue menjawab “nggak”, tapi ketika gue mengingat kembali, masa kecil gue memang bahagia. Ungkapan “bahagia itu sederhana” sepertinya cocok menggambarkan masa kecil gue.

Gue pernah mengingat-ingat masa kecil dengan teman-teman dan kami merasa tersambung. Dengan kata lain, ingatan kami hampir sama. Kami lahir dan tinggal di tempat yang jauh satu sama lain, tapi memori kami tentang masa kecil bisa dikatakan sama. Mulai dari mainan, makanan, bacaan, musik, sampai acara televisi favorit. Jadi ketika mengingat bareng-bareng, rasa senang di masa itu kembali lagi.

  • Memainkan permainan yang sama.

Salah satunya adalah permainan yang kami lakukan nggak jauh berbeda, walaupun dulu kami belum kenal satu sama lain dan bahkan nggak tinggal berdekatan. Dulu nggak ada yang namanya tablet, ponsel pintar, dan alat canggih lainnya yang bisa kami bawa- bawa sebagai hiburan. Permainan tradisional dan hadiah-hadiah dari makanan ringan menjadi permainan sederhana yang sudah cukup buat kami bersenang-senang.

Petak umpet, galasin, benteng, lompat karet, ampar-ampar pisang, bekel, congklak, batu tujuh, bahkan permainan aneh “tak/tap jongkok”, “tak besi” (ada yang ingat atau hanya gue yang main ini?), menjadi permainan yang “merajalela” ketika SD. Main “A B C 5 Dasar” aja ketika istirahat juga sudah seru. Gue juga ingat dulu punya banyak tajos, hadiah dari makanan ringan (iya, gue suka makan chiki), yang bisa dimainkan sendiri atau ramai-ramai.

Sebagai anak perempuan, walaupun gue nggak suka main boneka (punya iya, tapi memainkannya nggak), gue suka main bongkar pasang baju boneka kertas. Mainan ini berupa satu set kertas yang terdiri dari satu boneka kertas dan baju-baju lengkap dengan aksesorisnya yang juga dari kertas. Setelah dilepas dari kertas tersebut, kita bisa memainkan bongkar pasang baju ke boneka kertas yang bergambar Barbie tersebut. Gue nggak suka Barbie dan boneka lain yang menyerupai manusia, seperti boneka bayi yang bisa menangis (karena buat gue itu justru menyeramkan), tapi gue masih mau memainkan boneka kertas itu.

  • Makan nggak makan yang penting kumpul.

How do we spend our time? Ketika internet belum menjadi kebutuhan penting sehari-hari, berkumpul di “dunia nyata” menjadi hal yang paling sering dilakukan. Kelas dua SMP gue punya “gang” yang terdiri dari delapan orang. Sebenarnya karena kami sekelas dan beberapa di antara kami rumahnya berdekatan jadi sering kumpul bareng. Salah satu hal yang suka kami lakukan adalah bermain di rumah masing-masing. Di antara kami, rumah gue dan teman gue yang bernama Wida sering dijadikan “basecamp”. Dan hal yang suka kami lakukan adalah ngerujak.

Apa yang membedakan acara ngumpul-ngumpul dulu dan sekarang? Handphone. Waktu yang dihabiskan ketika ngumpul dulu benar-benar “ngumpul”. Bukan berarti kita menghabiskan waktu dengan sia-sia ketika berkumpul di zaman sekarang. Hanya, pasti tahu bedanya ketika internet belum secanggih sekarang. Atau pasti ada di antara kita yang ketika kumpul, ponsel dan alat semacamnya nggak bisa lepas dari tangan.

Gue jadi berandai-andai ada tempat makan semacam “back to 90’s” dengan aturan nggak boleh menggunakan gadget apapun, paket data dimatikan, nggak ada wi-fi, ponsel hanya berfungsi untuk telepon atau SMS aja untuk sementara, jadi waktu yang dihabiskan memang untuk makan sambil mengobrol. Itu tujuan sebenarnya dari reuni atau kumpul bareng, kan? Mengetahui kabar masing-masing dengan mengobrol panjang lebar dengan bertatap muka, bukan mengobrol sambil sesekali mengecek media sosial. We could survive like this before so there’s no harm to try this, right?

  • Nature was my playground
img_20161109_125252

With my sister, cousins, and neighbor. Our tree was still a baby.

 

img_20161109_125107

Satu-satunya yang tersisa. From a baby to a big tree.

Processed with VSCOcam with m5 preset

Pohon rambutan kesayangan yang masih senang berbuah 🙂

Gue sangat beruntung tumbuh di rumah dengan banyak pohon. Dulu kami punya pohon mangga, rambutan, pepaya, durian (sayangnya nggak pernah berbuah), jambu air, jambu biji, petai cina, cemara, sampai jeruk limau dan singkong. Sayangnya yang tersisa sekarang hanya pohon rambutan.

Dulu gue suka main masak-masakan bersama kakak gue dan teman-temannya. Mereka tetangga dekat rumah. Daun singkong gue pakai sebagai (ceritanya) nasi. Pernah juga masak-masakan berubah menjadi masak beneran. Yang dimasak hanya telur, tapi memasaknya di halaman belakang rumah, serasa sedang kemping.

Walaupun udara saat itu sudah nggak sebagus ketika nenek kita masa kecil, tapi gue masih merasa udara saat itu lebih bersih dibandingkan sekarang. Isu pemanasan global juga belum ramai saat itu. Selain itu dulu Depok (tempat tinggal gue) nggak seramai sekarang. Margonda masih sepi. Lingkungan rumah gue pun masih belum ramai dipadati pendatang. Kalau lari pagi atau main sepeda di Minggu pagi udaranya masih sejuk. Kadang pukul enam pagi langit belum terlalu terang. Udaranya juga masih dingin. Walaupun gue nggak suka bangun pagi, tapi setiap hari Minggu gue paling suka bangun pagi.

20161109_124005

With my cousins in front of my baby rose apple tree.

Ketika kelas 6 SD, menjelang ujian akhir yang saat itu disebut Ebtanas, kami sering mendapat pelajaran tambahan. Setelah kelas lain bubar, kami kelas 6 masih berada di sekolah sampai sore. Main bekel sampai nyanyi-nyanyi jingle iklan aja sudah cukup buat kami melepas stres (walaupun sebagai anak SD nggak familiar juga dengan kata itu).

Jarak sekolah dengan rumah gue sebenarnya nggak terlalu dekat. Gue biasa naik becak untuk pergi ke sekolah. Tapi pulang sekolah gue nggak selalu naik becak juga. Kalau pulang bareng teman, pilihan kami kadang berjalan kaki. Mungkin sekitar 15 menit. But that was fun. Sambil ngobrol, sambil pura-pura lagi berpetualang, kadang berhenti untuk memetik buah (atau biji?) kuning yang sampai sekarang gue belum cari tahu namanya tapi familiar banget. Saat itu memang hanya perjalanan pulang dari sekolah, tapi sekarang gue mengingatnya sebagai petualangan.

Sebagai generasi yang menjadi saksi mata perkembangan teknologi, gue nggak pernah menyesal nggak dilahirkan di zaman ketika teknologi serbacanggih seperti sekarang. Gue merasa ketika kita tumbuh sambil merasakan perkembangan sesuatu, kita justru lebih bisa menghargai apa yang kita punya dan apa yang telah kita lewatkan.

My childhood was simple. No gadget, no internet. But I was full with adventures, laughter, and memories.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s