Divorce in Children Eyes: It’s Never as Easy as A B C

What does it feels like when your parents divorce?

When it happened, you felt like it was only a dream. When you wake up, you realized it’s real. You hate it, but you can’t do anything. You want to accept it, but you choose to go back to sleep instead. It would go like that for certain time.

Nggak ada yang bisa memprediksi perasaan. Bahkan diri kita sendiri. Terkadang kita nggak bisa mengontrol apa yang harus dan nggak harus kita rasakan. Sedih? Itu pasti. Kecewa? Tentu. Hal yang selalu gue lihat sama dari korban perceraian adalah anak nggak bisa berbuat apa-apa. Bukan karena “ini urusan orang dewasa”. Ketika perasaan sudah nggak bisa mengikuti pikiran, orang lain nggak bisa melakukan apa-apa.

Gue adalah orang yang sangat sensitif. Jadi bisa dibayangkan ketika gue mengetahui kabar jelek itu. Gue masih sangat ingat hari itu. Hari ketika gue diberi tahu bahwa orangtua gue akan berpisah. Gue justru harus kerja sambilan di kampus, yaitu menjadi tutor untuk orang asing. Sebisa mungkin gue fokus mengajar. Gue melupakan sejenak apa yang baru gue dengar di rumah hari itu. Gue hanya memikirkan apa yang harus gue ajarkan.

Gue pernah menonton drama Korea yang tokohnya merasa lemas dan sulit berjalan setelah dia mendengar berita buruk tentang keluarganya. Keluar dari mobil dia berjalan limbung sampai akhirnya jatuh terduduk. Ketika itu gue berpikir adegan-adegan seperti itu terlalu dilebih-lebihkan. Sayangnya, ketika gue mengalaminya, gue merasakan apa yang ditunjukkan oleh tokoh itu. Selesai mengajar, gue nggak bisa berpikir apa-apa. Gue merasa gemetar walaupun mungkin nggak terlihat begitu. Gue sangat nggak kuat jalan. Teman-teman gue yang juga mengajar hari itu berbicara apa pun gue nggak terlalu mendengarkan. Dan yang paling gue rasakan saat itu adalah gue menyalahkan Tuhan. Kenapa harus gue? Kenapa yang tadinya keluarga kami baik-baik lalu jadi begini? Apa salah gue? Bahkan ketika teman gue mengajak salat, gue nggak mendengarkan dan nggak mau beranjak.

It was terrible, I know. Gue bukan manusia sempurna yang langsung bisa menerima semua keadaan. Pada awalnya gue mencari-cari siapa yang salah sampai gue harus merasakan pengalaman pahit kayak begini. But then the one who gets hurt is not only me. Kakak gue juga pasti merasakan hal yang sama. Sementara adik gue yang saat itu masih SMP belum terlalu mengerti. Dan orangtua gue mungkin yang lebih sakit hati karena mereka harus mengambil keputusan yang nggak mengenakkan untuk anak-anaknya.

https%3a%2f%2f40-media-tumblr-com%2fdc034c3bfe5312827e1b2b314c9123a8%2ftumblr_ntle3ampdv1qzr04eo1_500

But I still feel grateful. Gue nggak berakhir terpuruk. Gue masih bisa diselamatkan dengan keberadaan sahabat dan teman-teman kuliah yang menghibur tanpa gue minta. I never told anyone except for my best friends. Itu pun susah karena gue nggak terbiasa berbagi saat itu juga.

Gue menjalani semester akhir kuliah dengan normal. Saat itu gue sedang menulis skripsi (yeah, you can’t asked them to pending the bad news since I was doing my thesis right?). Menulis skripsi dengan keadaan yang sangat nggak mendukung di rumah jelas bisa buat gue stres. Karena itu, kampus menjadi tempat yang sangat gue senangi saat itu. Bertemu teman-teman kuliah, terutama sahabat-sahabat gue, menjadi hiburan yang nggak ada duanya.

Menyelesaikan skripsi tepat di tahun keempat gue kuliah dengan nilai sangat memuaskan di saat seharusnya gue terpuruk menjadi prestasi paling membanggakan buat gue. Saat itu gue memang nggak membiarkan diri gue jatuh. Bahkan kalau gue ingat lagi, setelah perceraian itu terjadi, gue jadi bisa lebih konsentrasi. Nggak ada pintu dibanting, nggak ada ribut-ribut nggak jelas ketika gue sedang mengetik di kamar. Dan gue nggak perlu menangis malam-malam lagi. Ketika itu terjadi, gue melihat itu adalah dampak positif yang bisa gue ambil.

Tapi nggak semudah itu gue menerima. Penolakan dan harapan masih gue rasakan. Penolakan untuk berpikir bahwa keluarga gue sudah berbeda dan harapan keluarga gue bisa seperti dulu. Walaupun gue bisa menjalani semester terakhir kuliah dengan lancar, gue masih dihantui dengan perasaan-perasaan itu.

Gue terbiasa tinggal dikelilingi keluarga besar. Keluarga besar dari Mamah memang tinggal berdekatan sejak dulu. Ketika lingkungan rumah gue masih dikelilingi hutan dan sawah, kakek dan nenek gue sudah tinggal di sini menjadi pemilik toko kelontong satu-satunya. Karena itu, sepupu-sepupu gue mungkin menjadi hiburan bagi gue juga saat itu. Gue anak rumahan yang lebih sering bermain dengan sepupu dibandingkan tetangga. Sementara keluarga Papah tinggal di Bogor. Mereka orang Bogor asli. Dulu kami hanya berkunjung setiap Lebaran. Karena itu juga gue lebih dekat dengan keluarga Mamah. Ketika perpisahan itu terjadi, gue nggak merasakan perbedaan terlalu jauh karena gue masih tinggal di rumah Mamah dengan masih berinteraksi dengan keluarga Mamah.

Ketika masa-masa suram itu gue lewati, gue mulai ingat hal-hal di masa sebelum itu terjadi. Gue pernah mimpi beberapa kali Papah pergi lebih dulu, entah itu meninggal atau pergi dari rumah. Gue tentu takut dengan mimpi-mimpi itu—dan nggak mengerti. Tapi karena nggak terjadi apa-apa, gue abaikan mimpi itu. Toh hanya mimpi. Atau ternyata itu memang kekhawatiran tentang masa depan gue?

Gue punya beberapa buku Jacqueline Wilson. Salah satunya buku yang berjudul The Suitcase Kid. Gue sudah punya buku ini jauh sebelum orangtua gue bercerai. Ketika itu terjadi, gue langsung ingat kembali buku ini.

“When my parents split up they didn’t know what to do with me . . .

My family always lived at Mulberry Cottage. Mum, Dad, me – and Radish, my Sylvanian rabbit. But now Mum lives with Bill the Baboon and his three kids. Dad lives with Carrie and her twins. And where do I live? I live out of a suitcase. One week with Mum’s new family, one week with Dad’s.

It’s as easy as A B C. That’s what everyone says. But all I want is to go home – back to Mulberry Cottage…”

Begitu sinopsis buku tersebut. Gue memang “lebih beruntung” dari anak itu karena gue sudah cukup umur. Gue berusia 22 tahun saat itu. Gue nggak memilih harus tinggal bersama siapa, karena secara natural gue dan dua saudara gue masih tinggal bersama Mamah. Gue nggak perlu bolak-balik, karena gue nggak ada keinginan untuk itu. Dan gue nggak merasa sendiri. Sisi positif lain yang gue rasakan: gue masih punya orang-orang yang membuat gue bertahan.

“It’s as easy as A B C. That’s what everyone says.” That’s true. It’s not. It’s never easy. Even when you started to accept it, you still have to learn the next step. No matter how old you are, kid or adult, divorce is never easy.

Mungkin ada yang merasa mudah, tapi semua itu gue yakin butuh proses. Suka melihat anak-anak artis yang orangtuanya bercerai tapi mereka terlihat baik-baik saja? You will never know what’s inside. Their feelings, their minds. Di awal, menerima keadaan yang sebenarnya itu nggak mudah. Namun bukan berarti nggak akan pernah bisa.

“Setiap luka butuh waktu untuk sembuh.” Sakit hati karena cowok sudah pernah gue rasakan, tapi rasanya nggak sesakit ketika keluarga gue terpecah. Karena itu gue nggak peduli dengan kutipan itu sebelumnya. Tapi kutipan itu menjadi sangat benar adanya ketika gue mengalami luka terbesar dalam hidup gue. Waktu menjadi kunci penting. Membayangkannya memang sulit, tapi ketika waktu itu terus berjalan dan kita nggak berhenti melakukan apa yang sebaiknya memang kita lakukan alias tetap menjalani hidup, luka itu akan sembuh. Pasti.https%3a%2f%2f40-media-tumblr-com%2fd22c5afa660c916048459417509f5238%2ftumblr_nv6fe8wotm1qzr04eo1_500

Gue nggak bilang kita nggak mungkin nggak punya bekas luka. Sampai sekarang bekas luka itu masih ada di diri gue. Dan yang terbaik yang bisa gue lakukan adalah terus mengingat bekas luka itu sebagai kenangan paling menyakitkan atau mengingat bekas luka itu sebagai kekuatan ketika gue menghadapi masalah. Gue memilih yang terakhir.

A friend said this to me, “If you already been through a hardest problem, you will be able to handle a tiny problem.”

Dan kalau lo bisa menghadapi masalah terbesar dalam hidup lo, lo pasti bisa menghadapi masalah besar lainnya di masa yang akan datang. Karena kita nggak pernah tahu luka apa saja yang akan kita dapat sepanjang kita hidup di dunia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s