Psychology Talk: Belajar Psikologi Bukan untuk Jadi Cenayang

Di tulisan ini gue pernah bilang bahwa dulu sempat mau memilih Psikologi sebagai jurusan kuliah. Walaupun gue nggak memilih itu, gue tetap tertarik dengan ilmu psikologi. Menganalisis orang bukan hal mudah. Mungkin yang tertarik untuk berkuliah di jurusan itu awalnya mengira akan mudah, karena toh hanya menganalisis orang. Padahal ternyata nggak semudah itu.

Karena penasaran apa sih yang dipelajari di jurusan Psikologi dan imbasnya ke diri sendiri, gue wawancara seseorang–yang juga sahabat gue yang pernah disebutkan di sini, yang baru-baru ini akhirnya menyelesaikan kuliah S-2 Psikologi-nya.

Jarak Depok-Bandung nggak terasa di zaman serbateknologi seperti sekarang. Berhubung sekarang Neta menetap di Bandung mengikuti jejak suami dan sedang menunggu hari-hari kelahiran calon anak pertama, wawancara gue lakukan via telepon di WhatsApp.

Sebelum mulai, gue sempat memberi tahu Neta topik yang gue bahas. Di awal telepon dia langsung nyerocos panjang lebar jadi gue harus berhentikan secara paksa ibu ini.

Oke, sekarang ceritain dulu kenapa lo milih Psikologi?

Neta: Awalnya gue mau jadi dokter anak. Itu baru keinginan aja karena ibu kan dokter. Lalu waktu SMA pas ada psikotes tentang minat jurusan untuk kuliah, hasil psikotes gue menyarankan ke Psikologi. Sebenarnya tertarik juga ke sana. Karena “dukungan” seperti itu sih yang awalnya buat gue “oke, Psikologi”. Alasan standar banget ya. Ternyata ketika masuk Psikologi, ya nggak segampang yang gue pikirkan di awal.

Memang kuliah Psikologi seperti apa?

Neta: Ini yang suka salah dianggap orang. Psikologi itu bukan ilmu membaca orang. Ingat ya, kami bukan cenayang. Psikologi itu sudah ada ilmu pastinya. Psikologi itu turunan dari ilmu Filsafat jadi buat mikir juga dan menguras pikiran banget. Gue harus belajar statistik juga, buat penelitian, bikin alat tes dan peraga. Misalnya ilmu membaca tulisan tangan dan tes proyektif, itu juga sudah ada ilmunya, ada primbonnya. Tes proyektif itu tes gambar. Jadi gue belajar membaca kualitas garis, model, sampai posisinya.

Lo meneliti kasus juga?

Neta: Waktu kuliah S-1 gue baru meneliti dan observasi aja. Misalnya observasi di rumah sakit. Gue harus buat alat tes untuk wawancara. Subjeknya misal perawat. Gue akan wawancara dia dan observasi. Sementara waktu kuliah S-2 gue baru mendiagnosis kasus. Kasusnya dibagi menjadi klinis, IO (Industri dan Organisasi), dan pendidikan. Kasus klinis mendiagnosis satu individu, misalnya di rumah sakit, tentang kejiwaan. Untuk IO masalah yang dianalisis berkaitan dengan perusahaan, misalnya menganalisis karyawan. Sementara pendidikan lebih rumit lagi, karena intervensi (penanganan) yang dilakukan bukan hanya ke satu individu. Gue harus menangani anaknya lalu orangtua atau pihak lain yang berhubungan dengan si anak kemudian sekolah (atau lembaga yang berkaitan dengan si anak).

Gue ingat lo pernah cerita tentang kasus penderita HIV AIDS, kalau nggak salah itu waktu lo kuliah S-1.

Neta: Iya, tapi waktu itu cuma jadi pembicara aja. Sementara waktu S-2 itu masuk ke mata kuliah pilihan. Bukan mata kuliah pilihan juga sih, tapi masuk ke pertemuan ilmiah. Gue akan bertemu dengan narasumber lalu meneliti para penderita HIV AIDS itu tertular darimana dan sebagainya. Gue pernah meneliti tentang satu daerah yang ditempati penderita HIV AIDS. Kebanyakan tertular karena jarum suntik narkoba. Di situ sudah terkenal sebagai tempat pengedar dan pemakai narkoba. Ada polisi yang standby di sana sebenarnya, tapi mereka nggak melakukan apa-apa.

Oh, gue pernah dengar tentang daerah itu. Terus penanganan terhadap penderita HIV AIDS itu bagaimana?

Neta: Ada lembaga yang membagikan jarum suntik.

(Gue sempat potong) Loh? Kenapa malah difasilitasi?

Neta: Karena lembaga itu hanya menangani dan membantu penderita HIV AIDS. Tugas mereka adalah membantu mencegah penularan HIV. Mereka juga mensosialisasikan ke para penderita HIV AIDS untuk datang ke puskesmas. Di sana disediakan obat gratis bernama methadone. Memang nggak menyembuhkan, tapi setidaknya bisa mengurangi. Kalau masalah narkoba seharusnya itu urusan pemerintah ya. Karena itu pemakai narkoba di daerah tersebut diberi jarum suntik bersih supaya nggak terjadi penularan. Nggak gampang juga menangani pecandu.

Kasus penderita HIV AIDS itu kan kasus khusus. Ada nggak kasus lain yang mengena banget ke lo, bahkan sampai sekarang masih lo ingat?

Neta: Ada. Ini waktu gue penelitian kemarin. Gue sudah biasa menangani anak-anak bermasalah di sekolah normal, tapi kasus yang mengena banget buat gue adalah ketika gue melakukan penelitian di SLB Tunaganda. Gue menangani anak tunanetra yang daya sensorik dan pendengarannya kurang, dan nggak bisa bicara juga. Dia berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Tapi masalahnya, karena daya sensoriknya kurang, dia jadi suka memukul dan melukai diri sendiri. Bahkan dia suka mengorek-ngorek serat kayu meja kemudian serat kayu itu dimasukkan ke telinganya. Dia anak laki-laki usia 12 tahun, sulung dari tiga adik perempuan yang semuanya normal. Orangtuanya tegas dan nggak memanjakan dia walaupun dia berkebutuhan khusus. Ini bagus karena anaknya jadi mandiri. Memang ketika orangtuanya pulang kampung ke Pontianak, anak ini nggak ikut dan dititip di asrama sekolah. Mereka beralasan nggak mau mengganggu orang lain ketika di pesawat, misalnya. Bukan karena nggak peduli sih ya, tapi lebih karena memerhatikan kenyamanan lingkungan sekitar, karena anak ini memang agak sulit ketika berada di luar. Dia suka berteriak dan—seperti yang gue bilang tadi, menyiksa diri sendiri.

Cara lo menanganinya gimana? Secara garis besar aja, nggak perlu detail.

Neta: Intervensi gue adalah mencari kebutuhan anak ini, lalu menangani masalah yang sangat urgen, seperti cara membuat dia berhenti menyiksa diri sendiri. Gue juga bertanya ke orangtuanya tentang pergaulan dia di rumah. Karena itu untuk kasus seperti ini, gue nggak berurusan dengan si anak aja, tapi juga ke orangtua dan sekolah.

Lo sudah belajar meneliti dan mendiagnosis kasus. Ini yang bikin gue penasaran juga. Ada pengaruhnya nggak ke diri lo sendiri dan cara pandang ke orang lain selama atau setelah kuliah?

Neta: Ada banget. Gue jadi tahu kekurangan diri sendiri. Sebelumnya setiap menghadapi masalah, gue akan ikut menyalahkan pihak luar. Tapi setelah gue belajar tentang perilaku dan sebagainya, gue jadi bisa menganalisis diri sendiri, introspeksi, dan nggak menyalahkan eksternal. Cara pandang ke orang lain pun berubah. Karena gue mampu introspeksi, cara gue melihat lingkungan sekitar pun nggak langsung menilai begitu aja. Sebelumnya gue hanya kesal ‘kenapa sih orang ini begitu’. Setelah belajar, gue akan melihat dari sisi logisnya terlebih dahulu. ‘Oh, orang ini begitu karena ini dan itu.’

Kalau dalam menghadapi masalah, ada perubahankah?

Neta: Gue orang yang neurotik, selalu cemas kalau ada masalah. Tapi sekarang gue bisa melihat sisi positifnya, nggak buru-buru cemas duluan, dan lebih tenang. Tapi kalau sudah “menuju puncak”, gue tetap nggak bisa mikir, bisa sampai nangis seharian, dan nggak peduli apapun. Jadi gue tetap butuh waktu. Gue tahu harus melakukan apa untuk menghadapi masalah itu, tapi ada waktu tertentu supaya gue tenang terlebih dahulu.

Masuk ke pertanyaan pribadi banget ya. Dulu lo sangat pemilih soal cowok, bahkan didekati sama cowok yang sekarang jadi suami lo aja ogah. Apa karena pengaruh kuliah Psikologi juga?

Neta: Lo juga milih-milih banget (oke, nggak usah dibahas, Ne!). Sebenarnya ngaruh banget sih. Waktu gue kerja jadi HRD, karena kebiasaan menilai karyawan, gue juga jadi bisa menilai orang-orang di sekitar gue, terutama cowok. Gue jadi menganalisis mereka. Kalau akhirnya gue memilih suami gue, itu tetap ada hubungannya dengan perasaan juga ya, bukan karena ilmu psikologi. Sebelum gue akhirnya sama dia pun gue menilai dia orangnya seperti apa. Dan dia orangnya juga sama-sama neurotik, sama-sama cemas ketika menghadapi masalah. Namun setelah menikah, semuanya berkembang.

Hmm, oke, maksudnya?

Neta: Ada yang namanya teori Triangle of Love, yaitu Passion, Love, dan Commitment. Waktu gue pacaran, Love gue atau rasa cinta gue ke calon suami gue biasa aja, nggak terlalu cinta banget bahkan. Kadar kecemburuan gue ke dia pun biasa aja. Saat itu gue lebih tinggi ke Commitment. Barulah setelah menikah mulai meningkat dari Commitment, Love, ke Passion.

Oke, gue nggak akan bertanya lebih jauh soal tingkat Love dan Passion lo. I think that’s it. Thank you, ne! Next time gue akan menghubungi lagi atau see you in Bandung!

Neta: Oke. Datang pas gue lahiran ya!

*

Kuliah apapun jurusannya memang nggak mudah ya. Begitu pun kuliah Sastra Indonesia (gue akan bahas ini lain kali). Mempelajari psikologi memang menarik dan membuat gue penasaran (tapi nggak dengan bagian statistiknya). Untuk yang ingin kuliah jurusan Psikologi, semoga bisa sedikit membantu. Terima kasih ya, Neta, sudah berbagi sebagian ilmu dan pengalaman berharganya.

“Psikologi itu bukan ilmu membaca orang.” -Neta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s