There’s Nothing Wrong With an Introvert

I had never heard about introvert before.

Apa yang gue tahu tentang introvert ketika masih anak-anak? Yang gue tahu—dan orang lain bilang—gue adalah anak yang pendiam. Gue pendiam, tapi gue masih bisa bergaul dengan teman-teman sekelas dan bahkan dekat dengan beberapa di antaranya. Gue nggak kesulitan mencari teman atau bermain sama teman. Main bareng di sekolah, pulang bareng, dan sesekali teman-teman dekat waktu itu main ke rumah karena rumah gue memang lumayan dekat dengan sekolah.

So, kenapa gue masih dibilang pendiam? Nggak banyak omong, itu pasti. Gue lebih sering mendengarkan dibandingkan bercerita ketika berada di kumpulan banyak orang. Tapi ketika hanya bersama teman-teman dekat, gue justru bisa cerita apa aja.

Kapan gue mulai “mengenal” introvert? SMP? SMA? Anyway, when I knew about it, I just “oooh”. That’s it. Gue nggak cari tahu lebih banyak juga. Tapi menginjak lulus SMA gue tertarik dengan ilmu psikologi. Awalnya sih sampai mau memilih jurusan Psikologi, tapi jurusan Sastra lebih menarik mata.

Namun sampai sekarang gue selalu tertarik dengan ilmu psikologi. Apalagi ketika sahabat gue Neta masuk jurusan Psikologi, gue jadi tetap bisa menghilangkan rasa haus alias penasaran terhadap ilmu yang satu itu dengan nanya-nanya dia.

Sebelum memutuskan membuat blog ini, gue sempat ingin membuat blog khusus introvert. Di dunia per-blogger-an apalagi, gue yakin banyak introvert merajalela. Meskipun ada juga ekstrovert yang suka menulis, rata-rata orang yang suka menulis adalah introvert. Kenapa?

Penggambaran atau stereotipe tentang introvert suka menulis sedangkan ekstrovert nggak sebenarnya sudah sering gue dengar. Tapi apa selalu seperti itu? Gue jadi membandingkan diri gue sendiri dengan Neta yang kebetulan adalah ekstrovert.

Dari blog ini oleh Ronald Frank, gue meringkas kembali apa itu introvert. And you can see great illustrations about introvert in here.

large1

  • Kehidupan sosial

Introvert adalah seorang thinker (pemikir) yang lebih canggung.

Ekstrovert adalah seorang feeler (perasa) yang lebih luwes dan mahir.

Sama seperti ekstrovert yang merasa terbebani ketika diam dalam waktu yang lama, introvert juga akan merasa berat ketika dipaksa bicara.

Gue bukannya pendiam, tapi gue akan bicara ketika gue memang ingin. Ketika kami para introvert tertarik dengan bahan pembicaraannya, kami justru bisa nggak berhenti ngomong. Misalnya ketika gue dan Neta berhadapan dengan orang asing dan situasinya membuat kami bisa mengobrol dengan orang itu, yang pertama kali mengajak obrol adalah Neta. Gue baru akan bergabung kalau kira-kira orang itu menimpali Neta dengan antusias yang sama.

Gue sebenarnya beberapa kali bertemu situasi seperti itu, misalnya waktu mau wawancara kerja deh. Ketika ada pelamar lain yang duduk sebelahan dan sama-sama menunggu giliran wawancara, gue bisa akhirnya mengobrol. Tapi itu pun gue melihat dulu gelagat orang tersebut. Kalau dia senyum duluan ke gue dan memberi sinyal bertanya-tanya “mau wawancara juga ya?”, gue bisa bertanya lebih dulu. Walaupun jelas tujuan kami sama dan obrolan itu hanya basa-basi, kalau sudah bosan menunggu dan malas main handphone, gue lebih suka mengobrol.

  • Memproses informasi

Introvert: hati-hati memproses pikiran dan perasaan secara bersamaan (dengan kata lain: agak lebih ribet).

Ekstrovert: memproses pikiran dan perasaan dengan cepat (go with the flow).

Wanna see my mind? Ribet dan ruwet.

superthumb

 I’ve never seen my brain either but I admit that I take a pretty long time to considering about something—or sometimes anything.

Bahkan untuk berpikir mau beli minuman apa di minimarket aja bisa muter-muter dulu, buka kulkas yang satu, tutup lagi, buka lagi yang lain, padahal akhirnya toh beli minuman yang sering dibeli.

Kalau dibandingkan dengan Neta, contohnya adalah ketika kami belanja baju. Urusan lama milih-milih baju sebenarnya nggak ada hubungannya dengan introvert dan ekstrovert. Tapi alasan pertimbangan “lama” kami berbeda. Neta bingung memilih di antara dua baju hanya karena warna atau modelnya.

Sementara gue bisa bingung bukan karena di antara dua pilihan, tapi pertimbangan kalau beli baju itu sekarang nanti baju yang gue lihat di online shop nggak jadi beli dong, terus kayaknya sudah beli baju model yang sama masa beli lagi, dan pertimbangan lainnya yang terkadang bikin gue nggak enak sendiri (dan malas) karena ditungguin mbak-mbaknya. Yeah, because we’re thinking and feeling in the same time which make it complicated.

  • Energi (dan cara mengisinya kembali)

Seorang introvert dan ekstrovert memiliki cara mengisi energi yang berbeda. Menyendiri atau bertemu dengan (hanya) orang-orang yang dekat dengannya menjadi cara mengisi energi bagi introvert. Sementara ekstrovert harus mengisi energinya kembali dengan berada di keramaian, bertemu/berkumpul dengan banyak orang.

Bukan berarti gue nggak suka berkumpul, karena gue juga merasa bosan setengah mati kalau nggak pernah ke luar rumah. Tapi waktu yang gue butuhkan untuk hang out nggak perlu setiap minggu. Sekali atau dua kali sebulan pun buat gue nggak masalah. Sekali setiap minggu juga sebenarnya pernah. Tapi itu pun hanya bertemu dengan orang-orang terdekat atau acara tertentu, kawinan misalnya.

And I love traveling. Di bagian ini gue terkadang merasa sebagai ambivert—bisa dibilang campuran introvert-ekstrovert. Tapi mungkin karena gue bisa menyesuaikan diri untuk menjadi ekstrovert juga? We will talk about this in the next post.

superthumb1

Bedroom is our Kingdom

Berada di keramaian lama-lama, misalnya di mal, dengan tujuan yang nggak jelas, gue akui memang menyedot energi gue. Nonton film di laptop atau baca buku sambil tiduran di kamar langsung terbayang kalau gue sudah sangat nggak betah. Dan kalau sudah bosan, barulah gue ke luar, baik itu pergi jalan sendiri atau bertemu teman. Tapi setelah itu berada di dunia gue sendiri lagi? That’s what I need.

Nah, kalau Neta, berada lama di rumah bisa buat dia nggak betah. Dia pun terlihat santai dan nyaman berada di keramaian. Kenapa gue bilang terlihat nyaman? Sebagai introvert, pernah nggak sih selalu merasa orang lain memperhatikan kita ketika kita berada di keramaian? Yah, padahal mereka nggak memperhatikan gue juga. Ngapain juga? Tapi ini salah satu alasan yang buat gue nggak terlalu merasa nyaman berada di dalam keramaian.

  • Otak

Introvert tidak seantusias ekstrovert dalam menghadapi kejutan atau risiko.

This one is so true. Gue pernah dapat kejutan ulang tahun, tapi reaksi gue? Ha-ha. Gue nggak tahu harus bereaksi apa. Bukan karena gue nggak senang. Gue sangat sangat senang, tapi gue nggak akan bisa menunjukkannya. Apalagi kalau dilakukan di depan umum (untungnya belum pernah—dan jangan, please!), gue justru akan kesel mungkin? Because I don’t like being the center of attention. Karena itu juga gue nggak suka presentasi. Mungkin ada introvert yang senang dengan perhatian seperti itu, karena toh ada juga introvert yang berprofesi sebagai artis. Dan artis nggak mungkin nggak akan dapat sorotan, kan.

Sementara Neta berbeda dari gue. Beberapa waktu lalu dia dapat kejutan baby shower dan mengunggah fotonya di Instagram. We are so different in this one, haha. Dia senang menunjukkannya ke orang lain, sedangkan gue cukup disimpan dalam hati (dan diary atau blog) senangnya.

superthumb2

  • Interaksi

Seorang introvert memproses semua yang ada di sekeliling mereka dan menaruh perhatian juga ke lingkungan, bukan hanya ke lawan bicara. Jika kamu melihat introvert tampak banyak diam, sebenarnya pikirannya banyak bekerja. Mungkin ia terlihat tidak peduli dengan lingkungan sekitar, tapi ia justru memperhatikannya, mengingatnya, dan sewaktu-waktu bisa memprosesnya kembali menjadi kenangan yang ia anggap penting.

I won’t deny it. Bisa dibilang “kebiasaan” ini membantu gue dalam menulis.

I might look like doesn’t care with everything around me, but inside my mind is working to save it all.

  • Cara berpikir

Introvert sering membandingkan pengalaman di masa lalu dan sekarang untuk membuat keputusan, karena itu mereka lama dan hati-hati dalam membuat keputusan.

Nah, ini contoh yang sebelumnya banget kalau gue lagi belanja. Keputusan “segampang” itu aja gue lama, bagaimana yang berat banget?

Introvert juga lebih banyak melakukan dialog dalam diri sendiri, karena itu seperti yang sudah disebut sebelumnya, introvert jadi seperti terlihat tidak peduli dengan lingkungan sekitar.

Dulu gue merasa aneh dan takut sendiri karena gue sering “berdialog” dalam diri sendiri. Apa gue aja yang begini? Normal nggak sih gue begini? Okay, it turns out that I’m pretty normal because I’m not the only one who feels like this. Right?

large2

Sampai sekarang pun gue suka “sibuk” sendiri di kepala. Biasanya sih kalau lagi ada ide cerita. Gue akan membayangkan adegan-adegan beserta dialog si karakter yang gue sudah atau belum tulis. Apalagi kalau ide itu muncul ketika gue lagi kumpul bareng. Gue bisa menulis di handphone dialog-dialog yang berseliweran di kepala dan “mengasingkan diri” sesaat dari teman-teman gue. It’s not happened all the time, but when it does, I’m sorry guys.

Introvert loves to:

  • writing,
  • reading,
  • spending time alone (recharging), or
  • do any activities which can do alone, quiet, take a long time, just interact one on one, not adrenaline activity (ex. I like games: puzzle, solving problems like finding things, mystery games).

Menulis termasuk hal yang membuat gue nyaman berada di dalam dunia gue sendiri. Mungkin karena senang memerhatikan, mengenang sesuatu, dan lebih suka membaginya dengan menulis dibandingkan menyampaikan langsung, kebanyakan intovert suka menulis.

Nggak ada yang salah dengan menjadi introvert, walaupun sering kali orang lain salah paham dengan kepribadian seorang introvert. Sama dengan ekstrovert yang nggak tahan kalau hanya diam di rumah terus, introvert pun nggak salah kalau hanya berada di rumah jika dirinya baik-baik saja. Setiap orang punya cara masing-masing untuk mengisi energi mereka, dan introvert punya cara mengisi energi yang mungkin terlihat serupa dengan “mengasingkan diri”.

I’m an introvert but I can manage my social life well. I remembered my father was told by his friend that I should get out a lot. I’m still teenager at that time so I guess they were thinking that I should “bergaul” a lot than just stay at home.

Tapi kalau diri kita memang nggak nyaman, kenapa harus dipaksa?

Are you an introvert? What do you usually do to recharge your energy?

“I think it’s very healthy to spend time alone. You need to know how to be alone and not be defined by another person.” -Oscar Wilde

Advertisements

3 thoughts on “There’s Nothing Wrong With an Introvert

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s