Writing is My Other World

Why do I love writing?

Belakangan ini, pertanyaan itu muncul di pikiran gue. Kenapa gue suka menulis? Apa karena menulis itu hal yang biasa dilakukan orang-orang introvert terus gue jadi ikut-ikutan? Well, I don’t even know what introvert is when I started like to write. It’s just because… I’m enjoying it.

Dulu gue nggak pernah berpikir hal apa yang harus gue lakukan untuk memenuhi kepuasan batin gue. Apa pun itu, gue harus nemu. Pokoknya harus! Ya nggak begitu juga, karena pada kenyataannya, gue mulai suka menulis saat di sekolah dasar. Di ingatan gue, kelas 4 adalah saat-saat gue mulai suka menulis. Dan pada saat itu, sebagai anak SD yang belum “kenal” dunia pun nggak terpikir pula apa itu kepuasan batin atau jiwa. Bahkan kenal passion pun nggak. Gue (baru) hanya mengenal hobi. Kalau ditanya, “Apa hobi kamu?” Menulis menjadi jawaban yang gue rasa cocok kalau dibilang “itu adalah hobi gue”.

Pelajaran mengarang menjadi pelajaran favorit gue. Tapi dengan catatan, bukan untuk dinilai. Ketika harus mengarang di ujian bahasa Indonesia, gue justru sangat malas. Dulu gue berpikir mengarang itu katanya karya bebas, terserah kita mau menulis apa, tapi kenapa harus dinilai dan dijadikan bahan ujian. Anyway, gue tetap suka mengarang, walaupun ceritanya standar semacam “Berkunjung ke Rumah Kakek” (nggak kreatip ya?).

Karena dulu nggak tahu apa itu passion, terus sekarang sudah tahu? Nope. Gue sebenarnya masih belum tahu apa passion gue. Gue masih mencari-cari. Menulis itu hobi? Ya, memang. Hobi itu sesuatu yang dilakukan di waktu senggang demi kesenangan, kan? Menulis adalah hal yang gue lakukan di waktu senggang, dan gue senang ketika melakukannya. Tapi itu dulu. Perlahan tapi pasti menulis menjadi hal yang nggak gue anggap sebagai hobi lagi. Bukan artinya gue nggak suka, tapi gue mulai melihatnya sebagai “hal yang akan gue lakukan di masa depan”. Ketika mulai mengenal cita-cita dan profesi atau pekerjaan di masa depan, gue mulai mengait-ngaitkan hal-hal yang berbau menulis menjadi pekerjaan yang akan gue lakukan di masa depan.

Gue masih sangat ingat dulu suka mengumpulkan kartu profesi bonus dari sebuah merek susu. Mulai dari dokter, arsitek, insinyur, guru… semua gue punya. Tapi hanya satu profesi yang menarik buat gue: wartawan. Sebenarnya gue lupa di antara wartawan atau jurnalis (seandainya masih ada kartunya—nggak mungkin juga sih ya), tapi gue ingat justru pekerjaan itu yang menarik di mata gue dibandingkan dokter. Walaupun gue belum tahu banyak apa saja yang akan dilakukan wartawan/jurnalis, asalkan berkaitan dengan menulis, gue suka.

tumblr_nqldeq3kd41qjzfi8o1_1280

Namun kenyataan kadang nggak seindah imajinasi yah. Realita itu keras, hahaha… Akhir-akhir ini gue merasa menulis justru (hanya) menjadi kebutuhan pencari nafkah, bukan karena gue menikmati melakukannya. Tahun-tahun belakangan pun membuat semangat gue menulis menyusut. Gue nggak ada ide menulis fiksi, menulis nonfiksi apalagi. Menulis malah menjadi beban. Padahal menulis itu justru menjadi pelarian gue di saat ada beban. Rasanya kayak dikhianati sama si menulis ya?

Pada akhirnya gue nggak pernah jadi wartawan atau boro-boro jurnalis. Waktu menjadi editor di surat kabar nasional aja bikin gue pusing baca berita hahaha…  Gue memang nggak menjadi wartawan atau jurnalis, tapi gue bersyukur tetap menjalani perkuliahan di bidang yang nggak jauh dari dunia menulis, terutama menulis fiksi.

Yap, sejak SMP gue lumayan rajin menulis fiksi. Ceritanya terinspirasi dari drama Jepang dan serial TV Amerika. Sebagai anak 90-an, dua macam tontonan itu tren banget. Bahkan sinetron dan telenovela juga jadi tontonan favorit gue saat itu, walaupun nggak menginspirasi gue untuk menulis sinetron atau telenovela sih.

Gue menulis cerita-cerita yang terinspirasi drama Jepang di satu buku tulis. Lalu gue minta teman-teman dekat gue baca dan meminta mereka menulis pendapatnya di buku itu juga. Setelah gue baca lagi, gue malu sendiri sebenarnya. Alurnya ngaco, ceritanya berantakan, tulisan bahasa Inggris masih banyak yang salah… jadi malu. Tapi gue jadi bisa menilai kemampuan gue dulu. Gue bisa memikirkan jalan cerita yang sempurna di kepala, tapi eksekusinya nggak semulus dengan yang dibayangkan akhirnya berantakan. Terkadang gue masih seperti ini ketika menulis. Gue tahu bagaimana jalan ceritanya dari awal sampai akhir, tapi gue selalu bermasalah di deskripsi sampai akhirnya cerita berhenti karena kebanyakan hapus, tulis, hapus, tulis lagi.

large

Read: I’m a writer not a talker.

Sekarang gue memang bukan seorang wartawan, tapi gue tetap bekerja di bidang yang berkaitan dengan menulis; penulis lepas. Menulis di blog pada awalnya adalah keinginan gue untuk menumpahkan isi kepala sekaligus ingin berbagi kalau—sukur-sukur—ada yang baca. Tahun 2011 gue mulai menulis blog personal. Tahun itu adalah tahun gue mulai bekerja di kantor untuk pertama kalinya. Menulis di blog juga menjadi pelarian ketika waktu deadline selesai dan bingung mau ngapain menunggu jam pulang.

Lalu tahun 2012 gue membuat blog baru khusus sebagai resolusi di tahun 2012, yaitu menulis setiap hari. Karena itu gue namakan blog tersebut catatan366hari. Hanya cerita-cerita singkat dengan topik yang menurut gue menjadi highlight di hari itu. Dan itu menjadi kepuasan tersendiri, karena gue berhasil melakukannya dari awal hingga akhir tahun 2012.

Kemudian perlahan hingga sekarang gue menjadikan menulis di blog sebagai ajang latihan memperbaiki tulisan gue. Karena masih ingin berbagi dan-tentunya-menulis, gue kembali membuat blog baru sebagai salah satu penyemangat gue untuk terus menulis (berhubung blog yang sebelumnya menurut gue terlalu personal).

Entah sampai kapan gue akan menulis. Masa di mana gue sangat tidak suka menulis pernah gue alami. Masa ketika gue merasa menulis bukan kemampuan gue yang sebenarnya pun pernah gue jalani. Tapi selama menulis masih memberikan gue “jalan” dan kesenangan yang nggak gue dapatkan dari hal lain, gue akan terus menulis.

How’s your writing story?

“All you can do right now is to express the voice you have. Do not wait for a-ha moments and big discoveries, because they may never come.” -Henri Junttila

Advertisements

One thought on “Writing is My Other World

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s